Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Sekolah Negeri Bisa Apa? Pemenang Lomba Didominasi Sekolah Swasta

Rabu, 26 Maret 2025 | Maret 26, 2025 WIB Last Updated 2025-03-26T15:35:43Z
Kepala Bidang Pendidikan Dasar Okto Naitboho menekankan pentingnya pelajaran Matematika dapat di minati siswa-siswi. (Foto news-daring.com) 


Kota Kupang, NTT,26 Maret 2025 – Lomba pendidikan dasar yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang menunjukkan dominasi sekolah swasta. Dari total pemenang, 90% berasal dari sekolah seperti Dian Harapan, Stella Gracia, Citra Bangsa, Don Bosco, dan Lentera. Mayoritas dari mereka merupakan binaan Universal Math Club (UMC), sebuah lembaga pelatihan yang berperan besar dalam membimbing siswa dalam bidang matematika dasar.


"Kami melihat bahwa anak-anak yang mengikuti pelatihan di UMC memiliki keunggulan dalam kompetisi ini. Sekolah swasta mendominasi, tetapi sekolah negeri juga mulai menunjukkan peningkatan," ujar Kepala Bidang Pendidikan Dasar, Okto Naitboho, Selasa (26/3).


Antusiasme siswa dalam mengikuti lomba ini sangat tinggi. Namun, keterbatasan kuota dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) membuat banyak pendaftar terpaksa ditolak.


"Kami hanya bisa mengalokasikan 50 peserta dalam DPA, sementara pendaftar jauh melebihi jumlah itu. Ini menjadi masukan agar tahun depan jumlah peserta bisa ditingkatkan," jelas Okto.


Meski kuota terbatas, hasil kompetisi ini dinilai luar biasa. Pemerintah Kota Kupang memberikan penghargaan berupa uang tunai, piala, dan sertifikat kepada para pemenang.


"Hadiah diberikan mulai dari juara satu hingga juara enam dalam bentuk uang, piala, dan sertifikat. Juara satu mendapatkan Rp2 juta, juara dua Rp1,5 juta, dan seterusnya hingga juara harapan tiga," terang Okto.


Ia menambahkan bahwa lomba ini bukan hanya sekadar kompetisi, tetapi juga bentuk penghargaan dan motivasi bagi siswa agar semakin giat belajar dan berprestasi.


Meskipun sekolah swasta masih mendominasi, beberapa sekolah negeri mulai menunjukkan kebangkitan. SDN Naikoten dan SDN Guana menjadi contoh sekolah negeri yang mulai bersaing dalam kompetisi ini.


Terkait keterbatasan dana yang sering dijadikan alasan oleh sekolah negeri, Okto menegaskan bahwa tidak ada kendala signifikan karena dana BOS sebenarnya dapat digunakan untuk kegiatan akademik dan ekstrakurikuler.


"Yang menjadi tantangan adalah bagaimana kepala sekolah memanfaatkan dana secara optimal. Sekolah yang berorientasi pada mutu pasti akan lebih banyak berinvestasi dalam program peningkatan kualitas akademik," tegasnya.


Ia pun mengimbau sekolah-sekolah negeri yang belum berhasil agar mau belajar dari sekolah-sekolah swasta yang sukses.


"Buktinya, ada siswa dari SD Lentera yang tahun lalu hanya meraih juara empat. Tetapi dengan kegigihan, tahun ini ia berhasil menjadi juara satu dalam dua kategori sekaligus, membawa pulang Rp4 juta, dua piala, dan dua sertifikat. Ini menunjukkan bahwa kegagalan hari ini bisa menjadi bekal untuk sukses di masa depan," pungkas Okto.


Dengan semakin meningkatnya persaingan, diharapkan sekolah negeri bisa lebih serius dalam pembinaan akademik agar mampu menyaingi dominasi sekolah swasta di kompetisi-kompetisi mendatang.

(kl)