![]() |
Kuburan Korban pelecehan seksual yang dilakoni oleh IW |
Maumere, NTT– Seorang oknum anggota kepolisian berinisial IW, yang sebelumnya menjabat sebagai Kapospol Permaan, Kabupaten Sikka, diduga melakukan pelecehan terhadap anak di bawah umur. Kasus ini pertama kali mencuat setelah korban berinisial KH melaporkan kejadian tersebut ke Propam Polres Sikka pada 12 Maret 2025.
Namun, sebelum kasus ini selesai diproses, muncul laporan baru dari keluarga korban lain dengan dugaan pelaku yang sama. Salah satu keluarga korban, AG, yang merupakan paman dari korban yang meninggal dunia, mengungkapkan kronologi kejadian yang mengerikan ini.
Pada malam hari sekitar pukul 21.00 WITA, oknum polisi IW bersama istrinya datang mengantar korban (alm) pulang ke rumah. Di hadapan kakek dan nenek korban, IW membuat pengakuan mengejutkan terkait tindakan yang telah ia lakukan terhadap korban.
"Bapa, tolong ajari anak ini. Sepertinya dia yang mau," ucap IW sambil membuat gestur tak senonoh. Ia juga mengaku pernah menunjukkan alat kelaminnya kepada korban dan meminta korban untuk menyentuhnya.
Mendengar pengakuan mengejutkan itu, kakek korban menanggapinya dengan tenang, "Terima kasih, Pak, karena saya mendengar langsung dari Anda, bukan dari orang lain."
Istri IW kemudian membenarkan bahwa korban pernah menceritakan kejadian ini kepadanya. Namun, bukannya bertindak, ia justru mengancam bahwa tanpa bukti atau saksi, korban bisa dituduh mencemarkan nama baik.
Saat percakapan berlangsung, tiba-tiba terdengar teriakan histeris dari dapur. Ketika keluarga berlari ke arah suara tersebut, mereka menemukan korban dalam keadaan terbakar.
Korban langsung dilarikan ke Puskesmas Watubaing sebelum dirujuk ke RS TC Hillers pada dini hari 24 November 2024. Dokter menyatakan kondisi korban kritis dan harus segera dioperasi. Setelah menjalani operasi, korban dipindahkan ke ICU.
Beberapa hari setelah kejadian, Ahmad Gozali paman Korban akhirnya mengetahui kebenaran dari orang tuanya.
"Awalnya saya mengira ini akibat ledakan kompor, karena bapak dan mama tidak langsung bercerita. Tapi saat korban semakin kritis dan dokter menyarankan pemasangan selang oksigen ke paru-paru, akhirnya mereka mengungkapkan semuanya," ujar Ahmad.
Ahmad Gozali mengaku marah dan kecewa karena keluarga tidak segera melaporkan kejadian ini ketika korban masih sadar.
"Seandainya saya tahu dari awal, pasti sudah saya laporkan sebelum korban dalam kondisi seperti ini!" ujarnya dengan geram.
Karena merasa waktu semakin sempit, AG berusaha mencari bantuan dengan menghubungi beberapa rekannya untuk melaporkan kasus ini ke pihak berwenang.
Setelah berjuang melawan luka bakar parah, korban akhirnya meninggal dunia pada 30 November 2024.
Meski korban telah tiada, keluarga tidak berhenti memperjuangkan keadilan. Pada 5 Desember 2024, mereka melaporkan kejadian ini ke UPTD-PPA agar kasus ini tetap diproses.
10 Desember 2024 l, pihak Propam Polres Sikka akhirnya memanggil AG untuk dimintai keterangan terkait pengakuan pelaku. Namun, setelah tiga bulan berlalu, keluarga tidak mendapatkan perkembangan yang berarti dari kasus ini.
Pada 6 Maret 2025, AG dan keluarganya dipanggil ke Propam Polres Sikka untuk membahas kasus ini. Saat ditanya apakah ada kesepakatan damai dengan pelaku, AG dengan tegas menolak berdamai.
"Saya bilang saya perlu membahas ini dengan keluarga besar. Setelah berdiskusi, kami sepakat membawa masalah ini ke SPKT Polres Sikka," katanya.
Namun, ketika keluarga hendak membuat laporan resmi ke SPKT, mereka justru kembali diarahkan ke Propam. Saat bersamaan, muncul korban lain yang juga melaporkan kasus serupa dengan pelaku yang sama.
Kasus ini telah menjadi perhatian luas di media lokal maupun nasional. Publik geram dengan lambannya penanganan kasus oleh pihak berwenang.
"Kami tidak akan berhenti sampai keadilan benar-benar ditegakkan. Meskipun anak kami sudah tiada, kami akan terus memperjuangkan kebenaran," tegas AG.
Kini, masyarakat menunggu langkah tegas dari kepolisian dan pemerintah daerah untuk mengusut tuntas kasus ini.
Apakah keadilan akan berpihak pada korban? Atau kasus ini akan tenggelam seperti banyak kasus lainnya? (Pantau terus perkembangan kasus ini hanya di media kami!) (AC)