![]() |
Lindamon Merukh, S.Pd, didampingi pengurus PGRI Provinsi NTT kanan. (Foto news-daring.com) |
Kota Kupang, NTT, 25 Maret 2025– SMA PGRI Kupang tengah menghadapi krisis serius. Selain gaji guru yang tidak dibayarkan selama berbulan-bulan, jumlah siswa di sekolah tersebut juga terus menurun drastis. Beberapa guru bahkan memilih keluar karena kondisi yang semakin sulit, sementara mereka yang bertahan hanya bisa berharap ada perubahan di bawah kepemimpinan baru.
Salah satu guru yang masih mengabdi di sekolah tersebut, Lindamon Merukh, S.Pd, mengungkapkan bahwa pemotongan gaji guru semakin parah setelah pergantian kepala sekolah. Bahkan, sejak November 2024 hingga Maret 2025, para guru belum menerima gaji mereka.
"Gaji awal saya dulu Rp350 ribu, lalu turun ke Rp300 ribu. Saat pergantian kepala sekolah ke Pak Sekrurin, gaji kami semakin berkurang jadi Rp200 ribu. Tahun ajaran kemarin sempat naik ke Rp300 ribu, tapi sejak November hingga sekarang belum dibayar," ujarnya.
Lindamon juga menegaskan bahwa meskipun ia mengetahui adanya Dana BOS yang masuk ke sekolah, ia tidak pernah mengelolanya meskipun namanya tercantum sebagai bendahara.
"Saya tahu ada Dana BOS masuk, jumlahnya sekitar 20 juta lebih. Tapi saya tidak tahu pengelolaannya. Tugas saya hanya menemani kepala sekolah untuk mengambil uang, setelah itu dikelola oleh kepala sekolah sendiri," jelasnya.
Menurutnya, gaji guru di SMA PGRI Kupang biasanya dibayarkan oleh bendahara sekolah, Ibu Susan Prabu. Namun, sejak beberapa bulan terakhir, pembayaran gaji semakin tidak menentu.
"Gaji kami dulu memang kecil, tapi minimal masih dibayarkan. Sekarang sudah lima bulan tidak ada kejelasan," tambahnya.
Selain masalah gaji, jumlah siswa di SMA PGRI Kupang juga terus menurun drastis. Saat ini, hanya 28 siswa yang terdaftar, jauh lebih sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
"Saat Pak Manu masih memimpin, jumlah siswa cukup banyak, sekitar 48 orang. Tapi sejak pergantian kepala sekolah, murid semakin sedikit hingga tersisa 28 orang," ungkapnya.
Bahkan, menurut Lindamon, jumlah siswa sempat hampir menyentuh angka 10 orang sebelum akhirnya sedikit meningkat kembali dengan adanya murid baru di kelas 10.
Lindamon mengungkapkan bahwa banyak guru di SMA PGRI Kupang telah memilih untuk keluar karena gaji yang tidak menentu. Saat ini, hanya dua guru perempuan yang bertahan mengajar di sekolah tersebut, yakni dirinya dan seorang rekan yang dipanggil Ibu Anak.
"Kami bertahan bukan karena gaji, tapi karena kasihan dengan anak-anak yang ingin belajar. Kalau kami pergi, siapa yang akan mengajar mereka?" katanya dengan haru.
Menurutnya, meskipun banyak guru yang ingin mengajar, mereka tidak bisa bertahan dengan gaji kecil yang tidak dibayar secara rutin.
"Kalau guru laki-laki, mereka pasti lebih sulit bertahan. Mereka punya istri dan anak yang harus dinafkahi," ujarnya.
Melihat kondisi sekolah yang semakin menurun, Lindamon pernah mengusulkan solusi untuk menarik lebih banyak siswa agar SMA PGRI Kupang tetap bertahan. Salah satu idenya adalah menawarkan pendaftaran gratis untuk 20 siswa pertama sebagai bentuk promosi.
"Kami berpikir, kalau sekolah mau maju, harus ada siswa. Ruang kelas banyak yang kosong, jadi saya usulkan agar kami bisa sosialisasi ke kampung-kampung dan menarik 20 siswa pertama dengan program gratis," jelasnya.
Namun, usulan ini mendapat respons negatif dari pihak sekolah. Lindamon bahkan sempat dituduh memprovokasi saat mengajukan ide ini dalam rapat guru.
"Saya hanya menyampaikan ide, bukan memaksakan. Tapi waktu rapat, saya malah disalahkan," ujarnya kecewa.
Dalam pertemuan dengan seluruh pengurus PGRI Provinsi NTT dan Ketua YPLP PGRI Provinsi NTT, Lindamon dan guru-guru lainnya mengungkapkan harapan agar ada perubahan nyata dalam pengelolaan sekolah. Mereka berharap adanya peningkatan kesejahteraan guru, perbaikan sistem penggajian, serta transparansi dalam pengelolaan Dana BOS.
"Kami semua sudah berkomitmen untuk tetap mengajar dan menjalankan program yang telah direncanakan bersama. Kami berharap kepemimpinan baru bisa membawa perubahan yang lebih baik bagi sekolah ini, terutama dalam menjamin hak-hak guru dan keberlangsungan pendidikan bagi anak-anak," tutupnya.
Para guru di SMA PGRI Kupang kini menaruh harapan besar pada pengurus baru agar mereka bisa mendapatkan hak mereka sebagai tenaga pendidik. Mereka berharap pendidikan di sekolah ini tetap berjalan dan bisa memberikan masa depan yang lebih baik bagi para siswa.
(kl)